Posted by: hernowo | September 27, 2008

MENGHITUNG-HITUNG HARGA BBM

 

MENGHITUNG-HITUNG HARGA BBM,

Ala POMINA Negeri Mimpi

Oleh Ir. H. Windu Hernowo, Dipl.Eng, MM – Kader PMB Jakarta Selatan

 

1.      PENDAHULUAN

Dalam beberapa bulan terakhir ini harga bbm mengalami kenaikan yang luar biasa. Konon kenaikan harga ini selalu dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak bumi yang besar. Kenaikan harga ini tentu berakibat negatif terhadap perekonomian Indonesia.Disatu sisi, kenaikan harga minyak akan mendorongpencarian sumber-sumber baru, namun dissi ain kegiatan tersebut tidak akan memecahkan persoalan dalam waktu dekat, karena kegiatan eksplorasi memerlukan waktu yang cukup lama sebelum dapat dieksploitasi.

Pasal 33 Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia pasal 33 berbunyi sebagai berikut :

(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.

(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai hajat hudup orang banyak dikuasai oleh Negara

(3) Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalammya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Sedangkan pasal 9 Undang-Undang No.30 Tahun 2007 Energi Tingkat Kandungan Dalam Negeri berbunyi :

(1) Tingkat kandungan dalam negeri, baik barang maupun jasa, wajib dimaksimalkan dalam pengusahaan energi.

(2) Pemerintah wajib mendorong kemampuan penyediaan barang dan jasa dalam negeri guna menunjang industri energi yang mandiri, efisien, dan kompetitif.

Menyimak pasal-pasal Undang-Undang diatas bisa diambil kesimpulan bahwa pengusahaan migas yang terkandung di dalam tanah dan laut Indonesia dikuasai oleh Negara dan semata-mata hanya dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

 

Surat Keputusan Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) No: Kpts 766/F00000/2007-S0 tentang Harga Jual Keekonomian Bahan Bakar Minyak Pertamina tanggal 29 November 2007, menetapkan bahwa terhitung mulai tanggal 1 Desember 2007 pukul 00.00 WIB, harga BBM Non Subsidi untuk pelanggan selain sektor rumah tangga, usaha kecil, transportasi dan pelayanan umum serta harga untuk bunker internasional, seperti berikut ini: 

HARGA JUAL KEEKONOMIAN BBM PERTAMINA MULAI 1 DESEMBER 2007 :

Jenis BBM   Harga Eceran    Harga Non Subsidi
Wilayah 1   Wilayah 2  Wilayah 3
(Rp/Lt) (USC/Lt) (Rp/Lt) (USC/Lt) (Rp/Ltr) (USC/Lt)
Premium  4.500 a)  7,450.85      90.28  7,737.20      83.36  7,901.65       85.13
M. Tanah  2.000 a)  8,347.90      89.95  8,529.40      91.91  8,710.90       93.85
M. Solar  4.300 a)  8,300.70      89.44  8,544.50  9,207.00  8,726.20       94.03
 7,939.80      85.55  8,173.00      88.07  8,346.80       89.94
M. Diesel  7,700.00      82.96  7,944.20      85.60  8,113.60       87.42
M. Bakar  –  5,750.80      61.96  5,893.80      63.51  6,019.20       64.86

 

Sumber:http://www.pertamina.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3407&Itemid=33 

 

Hal ini cukup bisa dimengerti oleh masyarakat umum di Indonesia, karena harga minyak mentah yang menjulang akhir-akhir ini. Sehingga pemerintah perlu melakukan penyesuaian harga dan subsidi menjadi harga yang sekarang ini kita nikmati bersama dari SPBU diseluruh Indonesia. Namun adakah kemungkinan pengelolaan manajemen harga minyak ini menjadi lebih baik, sedangkan resource yang ada sangat terbatas.

 

Ada baiknya kita menyimak dan mempelajari bagaimana POMINAS (Perusahaan Oplos Minyak Nasional) di negeri mimpi memprioritaskan BBM untuk rakyat kecil berikut :

2.KONSEP HARGA BBM POMINAS :

POMINAS (Perusahaan Oplos Minyak Nasional) di negeri mimpi selalu menyederhanakan masalah dengan menganalogikan Negara dan Rakyat sebagai hubungan ibu dan anak dimana Negara sebagai ibu dan masyarakat sebagai anak dalam suatu rumah tangga, saya akan selalu berfikir bahwa bila seorang ibu yang membuat dan menjual pisang, tidaklah mungkin ibu akan memberikan pisang goreng ke anak-2nya sendiri dengan harga jual yang diperuntukkan bagi orang lain (non-keluarga).Artinya bila si ibu membeli pisang mentah seharga Rp. 350.- dan menjual pisang goreng kepada orang lain dengan membebankan biaya produksi dan keuntungan semisal Rp.150.-. Sudah barang tentu si ibu akan menjual pisang goreng seharga Rp. 500,-per buah. Walaupun demikian, si Ibu tidak akan menghitung harga pisang untuk anaknya senilai Rp. 500.-, namun tetap Rp.350.- saja karena minyakgoreng, yang digunakan adalah minyak sisa (jelantah-jw) yang tertinggal di wajan penggorengan yang sudah diperhitungkan harganya didalam harga jual pisangnya ke orang lain. Tenaga yang tercurah untuk membuat pisang goreng tidak dihitung lagi karena tidaklah lazim seorang ibu minta bayaran pada anak2nya untuk segala yang dikerjakannya.

 

Analog dengan masalah yang ada diatas, kita anggap saja minyak mentah produksi dalam negeri (sebanyak 75% kebutuhan dalam negeri) sebagai pisangnya dan minyak mentah impor (25% kebutuhan Dalam negeri) sebagai minyak goreng yang harus dibeli, maka POMINAS akan mencampur minyak produksi dalam negeri sendiri (75%) dengan biaya produksi US$ 9.26/bbl. dan minyak Impor (25%)dengan harga impor semisal US$. 140.00  sehingga terjadi mixed Crude Oil price (harga Minyak Mentah Oplosan) senilai US$ 41.95 atau sekitar 0.299607143 dari harga minyak impor.

 


Bila 1 Barrel = 158.97 liter dibulatkan = 159 liter, maka harga Mixed Crude Oil
per liternya adalah=USD 0.263836478. Kemudian pertanyaannya adalah berapa biaya refinery, transportasi dan distribusi nya untuk membentuk Harga jual yang wajar bagi rakyat ?.

 

Angka perbandingan Harga Minyak Mentah Internasiona terhadap harga Oplos  0.299607143 ini adalah faktor pengali yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung seluruh harga (terlepas dari biaya transpotasi dan distribusinya), dengan asumsi emua harga BBM dihitung dari Harga Impor Crude Oil.

 

Bila faktor ini kita kalikan dengan masing-masing harga eceran, maka akan didapat harga Non Subsidi Pominas sebagai berikut : 

Jenis BBM   Harga Eceran    Perkiraan Harga Non Subsidi POMINAS
Wilayah 1   Wilayah 2  Wilayah 3
(Rp/Lt) (USC/Lt) (Rp/Lt) (USC/Lt) (Rp/Ltr) (USC/Lt)
Premium      1,348.23  2,232.33      27.05  2,318.12      24.98  2,367.39      25.51
M. Tanah         599.21  2,501.09      26.95  2,555.47      27.54  2,609.85      28.12
M. Solar      1,288.31  2,486.95      26.80  2,559.99  2,758.48  2,614.43      28.17
 2,378.82      25.63  2,448.69      26.39  2,500.76      26.95
M. Diesel  2,306.98      24.86  2,380.14      25.65  2,430.89      26.19
M. Bakar  –  1,722.98      18.56  1,765.82      19.03  1,803.40      19.43

 

3. KESATUAN UMAT DAN KEMAKMURAN BANGSA

 

Bab II-Pasal 2, ASAS DAN ‘TUJUAN pada Undang-Undang Energy nomor 30 tahun 2007, berbunyi :

Energi dikelola berdasarkan asas kemanfaafan, rasionalitas, efisiensi berkeadilan, peningkatan nilai tambah, keberlanjutan, kesejahteraan masyarakat, pelestarian fungsi lingkungan hidup, ketahanan nasional, dan keterpaduan dengan mengutamakan kemampuan nasional.

Artinya seluruh usaha penggalian dan exploitasi migas termasuk yang harus dikelola berdasarkan asas kemanfaafan, rasionalitas, efisiensi berkeadilan, peningkatan nilai tambah, keberlanjutan, kesejahteraan masyarakat. Bila pemerintah mempunyai keinginan untuk merubah cara pandang terhaddap manajemen harga minyak seperti harga POMINAS diatas, saya yakin dengan harga non subsidipun, masyarakat umum masih berkemampuan untuk membeli bbm dan tentunya akan  menggairahkan usaha kecil dan mikro.

 

Volume produksi sendiri crude oil yang diperuntukkan didalam negeri harus diselamatkan dulu untuk mencukupi ebutuhan nasional, sehingga terpenuhi. Kelebihan dari kebutuhan dalam negeri (bila ada) bolehlah diexport untuk mendapatkan devisa. Memang ada devisa dari minyak yang hilang dengan cara2 diatas namun itu adalah trade-off yang harus direlakan untuk mensejahterakan sekian juta penduduk Indonesia.

 

Dengan harga diatas tentunya tidak lagi ada protes, demo atau apapun bentuk keberatan masyarakat karena harga minyak ini menjadi lebih terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, dan dampak positifnya adalah biaya transportasi menjadi jauh lebih murah yang tentunya berdampak positif terhadap seluruh harga barang di Indonesia menjadi sangat terjangkau akibat biaya transportasi yang murah. Tentunya Kesatuan Umat dan Kemakmuran Bangsa bisa terwujud sesuai dengan slogan Partai Matahari Bangsa. Semoga allah swt meridhoi segala usaha kita semua untuk memakmurkan bangsa.

 

Tentunya dengan harga minyak yang rendah akan memancing sebagian orang untuk membeli dan menjualnya diluar negeri demi keuntungan pribadi, karena keuntungan yang sudah diendus sangatlah tinggi. Untuk memproteksi larinya minyak ini keluar negeri oleh orang yang tidak bertanggung jawab, sudah semestinya dibuat pengawasan yang ketat dan keras terhadap pelanggaran penjualan minyak keluar negeri untuk keuntungan sendiri. Hukum seberat2-nya tanpa ampun segala bentuk pencurian dan penyelewengan bbm yang menjadi hakat hidup orang banyak ini. 

4. PERBANDIN GAN :

Jenis BBM   Harga Eceran    Harga Non Subsidi
Wilayah 1   Wilayah 2  Wilayah 3
(Rp/Lt) (USC/Lt) (Rp/Lt) (USC/Lt) (Rp/Ltr) (USC/Lt)
Premium  4.500 a)  7,450.85      90.28  7,737.20      83.36  7,901.65       85.13
M. Tanah  2.000 a)  8,347.90      89.95  8,529.40      91.91  8,710.90       93.85
M. Solar  4.300 a)  8,300.70      89.44  8,544.50  9,207.00  8,726.20       94.03
 7,939.80      85.55  8,173.00      88.07  8,346.80       89.94
M. Diesel  7,700.00      82.96  7,944.20      85.60  8,113.60       87.42
M. Bakar  –  5,750.80      61.96  5,893.80      63.51  6,019.20       64.86

Jenis BBM   Harga Eceran    Perkiraan Harga Non Subsidi POMINAS
Wilayah 1   Wilayah 2  Wilayah 3
(Rp/Lt) (USC/Lt) (Rp/Lt) (USC/Lt) (Rp/Ltr) (USC/Lt)
Premium      1,348.23  2,232.33      27.05  2,318.12      24.98  2,367.39      25.51
M. Tanah         599.21  2,501.09      26.95  2,555.47      27.54  2,609.85      28.12
M. Solar      1,288.31  2,486.95      26.80  2,559.99  2,758.48  2,614.43      28.17
 2,378.82      25.63  2,448.69      26.39  2,500.76      26.95
M. Diesel  2,306.98      24.86  2,380.14      25.65  2,430.89      26.19
M. Bakar  –  1,722.98      18.56  1,765.82      19.03  1,803.40      19.43

Bila kita perbandingkan harga minyak eceran sebesar Rp. 4,500.00 dengan harga POMINAS sebesar Rp. 1,348.23 merupakan perbedaan yang sangsat signifikan. Untuk itu perlu rasanya kita renungkan “trade off” yang ada untuk kemakmuran bersama tanpa public riot menuju kedamaian hakiki. Pertanyaan yang timbul sekarang adalah Adakah niat baik Pertamina untuk membuat harga bbm seperti halnya harga Pominas ?.

Mari kita renungkan dan pertanyakan : bisakah…..???.  Jawabannya PASTI BISSSAAAA, Dimana ada kemauan, disitu ada jalan…………..

 

Atas dasar penulisan diatas, dibutuhkan political will pemerintah untuk bisa segera mengusahakan dan mengaplikasikan kebijakan bbm untuk kesatuan umat dan kemakmuran bangsa, dengan melakukan tahapan demi tahap langkah cermat dan cerdas sebagai berikut :

 

 

  1. Memandang MIGAS untuk semata-mata hanya dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
  2. STOP Penjualan Crude Oil keluar sebelum kebutuhan didalam negeri terpenuhi.
  3. LAKUKAN Refinery untuk produk campuran.
  4. IMPORT hanya kekurangan kebutuhan nasional saja.
  5. LAKUKAN PENGAWASAN SUPER KETAT terhadap TATA NIAGA MIGAS
  6. HUKUM seberat-beratnya para pencuri dan penyelewengan serta penyalahgunaan wewenang MIGAS.

 

Insyaallah dengan dasar pemikiran dan hati nurani untuk memakmurkan bangsa, segala usaha pemerintah akan sepen uhnya didukung oleh seluruh rakyat didalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini.

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: