Posted by: hernowo | November 7, 2007

Macet Jakarta, Masalah Tanpa Ujung

Sumber :kompas.com/kompas-cetak/0401/29/Otomotif
Macet Jakarta, Masalah Tanpa Ujung

DALAM sebuah percakapan sambil minum teh dan kue keranjang di kawasan Menteng, Jakarta, Senin (26/1) malam, tiga usahawan Indonesia bercerita tentang pengalaman masing-masing menembus macet Jakarta. Ia hanya dapat persoalan kalau jalan macet di kawasan-kawasan jalan alternatif. Misalnya kalau ingin pipis, repot bukan main. Turun dari mobil untuk pipis di tepi jalan tentu hal yang sangat tidak elok. Akan tetapi, bagaimana berkompromi dengan urusan “kecil” tetapi penting itu? Ia akhirnya memutuskan menempuh jalan praktis dengan membawa-bawa botol plastik bekas minuman ringan di mobilnya. Kalau ingin pipis, di tengah lautan kemacetan Jakarta, ia menarik keluar botol itu, menutup gorden mobil dan … urusan selesai. “Ngapain risi dengan sopir dan staf saya, lha wong kami sama-sama laki-laki. Jadi saya pipis aja di mobil. Habis mau di mana? Di tepi jalan? Ha-ha-ha, Anda bercanda,” kata usahawan yang suka tertawa ini. Usahawan kedua, juga enggan disebut namanya, berusia 72 tahun. Pengusaha ini menggerakkan bisnis besar di sektor tekstil dan produk tekstil. Ia tidak mempunyai masalah dengan kehadiran bus transjakarta yang bikin macet sebagian Ibu Kota, atau peraturan baru tentang 3 in 1. Sejak dulu ia selalu pergi dengan sopir dan seorang staf pria yang selalu siap menulis gagasan-gagasan baru pengusaha ini. Ide-ide itu biasa terlontar dalam perjalanan darat di Jakarta. Sama dengan pengusaha pertama, usahawan yang sudah mulai dimakan usia ini kerap menghadapi masalah kencing, bahkan kadang-kadang buang air besar. Ia sangat tersiksa kalau hasrat hajat itu datang tatkala ia terkepung macet Jakarta yang sinting. “Udah begitu hujan lebat, jarak ke kantor masih amat jauh. Wah, benar-benar tersiksa. Tahu sendiri bagaimana rasanya kalau kebelet hendak ke belakang, tubuh merinding semua,” tutur pengusaha ini.

Akhirnya ia nekat keluar mobil, menembus kemacetan Jakarta sambil berjalan kaki dan berpayung. Tujuannya mendapatkan rumah penduduk dan menuntaskan urusan hajat itu. “Orang Indonesia kan baik-baik, selalu memahami kesulitan orang sehingga saya dipersilakan masuk ke kamar kecil empunya rumah,” kata kakek yang tampak masih segar ini. “Pada kali lain, kesulitan yang sama datang. Kebetulan, tak jauh dari lokasi macet yang gila-gilaan itu, ada sebuah hotel, ya saya masuk saja, tuntaskan urusan belakang. Setelah itu ngeteh sebentar di kafe,” katanya. Pengalaman ini membuat pengusaha tersebut membawa botol bekas minuman ringan. Dan kalau urusan pipis, tinggal menutup gorden mobil, dan menyelesaikan masalah di situ. Sambil menghela napas ia menyebutkan, bagaimana jadinya kalau yang ingin pipis atau buang air besar adalah perempuan. Dan hasrat itu datang tatkala jalan amat macet, rumah masih amat jauh, hujan turun dengan lebatnya. “Lama-lama saya pikir Jakarta ini kota yang makin tidak manusiawi,” katanya. Ia baru merasa sangat tersiksa kalau lalu lintas macet total, tatkala ia mesti rapat atau bertemu tamu atau rekan bisnis di sebuah tempat. “Kalau kawan dekat sih, saya bisa telepon via telepon seluler dan minta maaf terlambat tiba karena macet. Tetapi bagaimana kalau misalnya saya janjian dengan sebutlah pejabat tinggi atau menteri sebuah negara sahabat? Wah, padahal saya juga mesti jaga reputasi. Apa pun, saya mesti tiba di lokasi tepat waktu. Akhirnya tiada jalan lain, saya naik ojek,” katanya. “Tetapi tahu sendiri ojek Jakarta, sebagian besar suka balap, nyelap-nyelip sesuka hati, pake naik trotoar pula. Kita sih bisa tiba di tempat tujuan tepat
waktu, tetapi jantung lebih dulu diajak olahraga keras,” katanya. TIGA usahawan tersebut berbicara tentang hal-hal yang tampak “biasa” untuk ukuran Jakarta. Persoalan tersebut akan makin rumit dan makin rumit lagi pada tahun-tahun mendatang, sebab setidaknya sampai hari ini pemerintah belum mengajukan program yang betul-betul riil untuk mengatasi kemacetan. Program yang bisa mengurangi kemacetan, misalnya pembangunan subway, skytrain, dan sebagainya masih dalam tahap wacana sejak dua warsa silam. Program yang agaknya mendekati tahap konkret ialah monorel.

Pembangunan rel kereta tunggal itu tampaknya akan jadi dalam waktu dekat. Namun, para pengamat angkutan darat menyarankan, supaya tidak kecewa, jangan dulu optimis. Sebab, program subway saja, yang sudah hampir jadi 10 tahun lalu, bisa batal hanya karena urusan sepele. Solusi yang coba disodorkan Pemerintah Provinsi DKI yakni bus transjakarta dan 3 in 1, agaknya tidak menyelesaikan soal sebab hanya memindahkan lokasi macet dan jam macet saja. Pada jam-jam berlakunya 3 in 1, jalan-jalan yang masuk kawasan 3 in 1 memang jauh lebih longgar. Namun, jalan-jalan alternatif penuh sesak. Persoalannya, seperti yang sudah kerap disajikan di laporan-laporan otomotif, memang hampir tidak ada penambahan jalan. Di sisi lain, penambahan jumlah kendaraan, mobil, sepeda motor, dan angkutan umum makin hebat. Bayangkan saja kalau di Jakarta bertambah 800.000 unit mobil dan sepeda motor per tahun.

Di forum lain, kendaraan dari kota-kota di sekitar Jakarta ikut mengepung Ibu Kota. Makin terbayang sintingnya macet Jakarta. Sepuluh tahun mendatang, jika masih tidak ada penambahan jalan, kendaraan-kendaraan di Jakarta bakal benar-benar berhenti. ADA baiknya kalau Pemerintah DKI memikirkan lagi solusi mengatasi kemacetan ini dengan menggunakan instrumen lain. Singapura mengurangi lonjakan kenaikan kendaraan dengan menggunakan instrumen pajak kendaraan dan sistem sertifikat (berlaku 10 tahun). Negeri berpenduduk empat juta ini mengimbangi instrumen itu dengan menyediakan fasilitas subway, kereta api, bus, dan taksi yang cukup memadai. Amerika Serikat menggunakan sistem parkir yang amat mahal. Di kota-kota besar, sebutlah di daerah elite New York, ongkos parkir per jam bisa mencapai 14-17 dollar AS per jam. Di Washington, Chicago, dan Los Angeles, tarif sedikit lebih murah, tetapi tetap saja mencekik leher. Bayangkan saja kalau parkir 10 dollar AS jam per hari, mesti mengeluarkan anggaran berapa besar untuk bayar parkir saja? Jangan heran kalau warga AS lebih suka naik kendaraan umum dan jalan kaki untuk jarak dekat. Hongkong dan kota terbesar di Australia, Sydney, mencari jalan keluar kepadatan kendaraan dengan ongkos parkir yang mahal.

Di Sydney misalnya, parkir di daerah tertentu besarnya 50 dollar Australia per delapan jam. Hongkong juga amat mahal. Pemerintah Provinsi DKI perlu mempertimbangkan untuk menggunakan instrumen parkir ini. Jika parkir di mal atau gedung perkantoran, misalnya, Rp 8.500 per jam (setara satu dollar AS), rasanya warga akan pikir panjang untuk selalu keluar dengan menggunakan mobil. Akan tetapi, kembali ke masalah awal, untuk menerapkan tarif itu pemerintah mesti lebih dulu menyiapkan sarana transportasi yang sangat memadai, trotoar untuk pejalan kaki yang memadai, serta rasa aman bagi warga di jalan, stasiun, halte, dan di dalam kendaraan umum. (ABUN SANDA).


Responses

  1. Itulah Jakarta, dari sisi desain transportasi memang sudah salah. Jalan jalan di ibukota sememangnya di desain untuk mobil pribadi. penambahan akses jalan baru lagi2 di desain untuk mobil pribadi. Akibatnya sekarang pemkot kelabakan. Adanya Trans Jakarta adalah solusi Jitu mengatasi kemacetan, walaupun pada awalnya menjadi biang kemacetan, namun pada akhirnya masyarakat bisa memilih.. Tinggal pemkot Jakarta saja yang harus bisa mengoptimalkan transportasi ini, menjangkau setiap titik ibukota dengan mengedepankan ketepatan waktu dan kenyamanan. Saya bisa amati perubahan di sekitar terminal kampung melayu jakarta timur. Dulu, sebelum adanya Trans Jakarta, jarang terjadi antrean panjang trayek Senen-kp. melayu, tapi sekarang rupanya trayek angkutan ini mulai disisihkan dengan adanya trans jakarta. Antrean sekarang cenderung panjang dan lama untuk menunggu sampai penumpang penuh. Harapannya ke depan pemkot DKI lebih mengoptimalkan trayek-trayek transportasi masal seperti TransJakarta/monorail, sehingga warga jakarta dapat beralih ke transportasi umum ini. Harapan lain adalah agar kita dapat menghemat bahan bakar yang semakin mencemari bumi kita. INDONESIA GO GREEN…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: