Posted by: hernowo | November 4, 2007

Ketika Sampah Banyuurip Menjadi ”Air Kehidupan”


Jumat, 26 Okt 2007
Ketika Sampah Banyuurip Menjadi ”Air Kehidupan”
Dimanfaatkan Mengais Tambahan Uang Jajan
Sebagian orang menganggap sampah sebagai sesuatu yang tidak berguna sehingga harus dibuang. Namun, tidak bagi orang-orang yang telah menggantungkan hidup dari barang-barang buangan itu.

OLEH JOKO SUROSO, Magelang

TUMPUKAN sampah yang menggunung di tempat penampungan akhir (TPA) Banyuurip, Tegalrejo, Magelang, bisa menjadi sumber penghidupan bagi tak kurang dari 150 pemulung. Menjelang siang, sejumlah pemulung, laki-laki maupun perempuan sedang mengais rezeki dari tumpukan sampah yang baru saja diturunkan dari truk sampah milik Pemkot Magelang.

Sesekali beberapa di antaranya terlihat mengusap keringat yang mulai membasahi mukanya. Penutup kepala yang mereka pakai tak mampu mengalahkan sinar matahari yang cukup menyengat.

Dengan telaten mereka membalik-balik tumpukan sampah. Satu persatu tangan mereka memungut dan mengumpulkan barang-barang yang dianggapnya berharga. Plastik, kertas, botol, tulang, kaleng, besi serta yang lainnya bisa mendatangkan uang.

Di sudut lain, TPA seluas 6,8 hektare sejumlah pemulung terlihat menata dan memilih-milih barang-barang yang dikumpulkan sejak pagi di ’kios-kios’ darurat yang dibuat sekitar kawasan itu. Beberapa pemulung lain terlihat sedang istirahat sambil penunggu pengepul yang biasa membeli barang-barang itu datang.

Bulan puasa bukan menjadi halangan mereka untuk tetap mengais rezeki dari sampah-sampah yang telah dibuang oleh pemilinya. Setiap hari mereka selalu yakin bakal mendapatan sampah-sampah yang bisa dikumpulkan dan dijual untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ny. Parmi, 55, salah seorang pemulung mengatakan dalam sehari mampu mengumpulkan sampah-sampah yang laku dijual seperti kertas, botol, kaleng dan plastik. Barang rongsokan itu dijual dengan harga bervariasi. Misalnya, kertas bisa laku Rp 400/kg, botol air mineral Rp 1000/kg serta keleng Rp 700/kg.

Perempuan yang tinggal tak jauh dari TPA itu tidak berani memastikan nominal pendapat yang bisa didapat setiap hari. Sebab, pekerjaam yang ditekuni sejak belasan tahun lalu itu hanya bersifat sambilan.

“Namun itu juga tidak mesti mas. Sebab, sampah yang dibuang ke sini, hasil dari pengambilan depo sampah di Kota Magelang. Jadi hanya sisa-sisa saja karena sebagian telah diambil oleh pemulung lain,” katanya.

Sebagian besar pemulung yang mengais rezeki di TPA Banyuurip adalah ibu rumah tangga. Mereka tinggal tak jauh dari lokasi pembuangan sampah yang disewa oleh Pemkot Magelang itu. Pekerjaan itu hanya bersifat sambilan untuk mengisi waktu luang usai menyelesaikan pekerjaan rumah. “Memang pekerjaan ini terasa kumuh. Tapi, dari pada harus duduk-duduk di rumah tanpa menghasilkan uang, lebih baik melakoni pekerjaan ini. Yang penting halal dan tidak mengambil barang orang lain,” paparnya.

Ny.Timah, 50, pemulung yang lain menimpali penghasilan yang diperoleh dari mengais sampah itu tidaklah seberapa. Tapi setidaknya dapat membantu suaminya yang berprofesi sebagai tukang batu. “Lumayan, dapat untuk jajan anak-anak di sekolah,” ujarnya tanpa merinci jumlah nominalnya.

Untuk mengumpulkan sampah yang laku dijual, mereka membuat lapak-lapak dengan penyekat kain spanduk bekas. Lapal-lapak yang dibuat di sekitar TPA itu untuk memudahkan pengepul mengambil barang-barang yang akan dibeli. Masing-masing penampungan sudah ada pemilik berikut pengepul yang akan membeli barang-barang rongsok itu.

“Kalau sudah terkumpul, biasanya pengepul mendatangi lapak-lapak itu, menimbang kemudian membayar sesuai harga yang disepakati,” terang Ny. Parmi.

Tanpa disadari, yang dilakukan oleh para pemulung itu justru memperpanjang usia TPA Banyuurip yang diperkirakan hanya tinggal 2 tahun lagi. Lahan TPA seluas 6,8 hektar itu sudah dipenuhi gunungan sampah. Tinggal lahan seluas 0,5 hektar yang masih bisa dimanfaatkan untuk menampung sampah.

Volume sampah yang dihasilkan oleh masyarakat di Kota Magelang tergolong tinggi. Setiap hari, sekitar 350-400 m3 sampah yang dikumpulkan dari masyarakat dibuang ke TPA tersebut. Bila tidak segera diantisipasi, dua tahun lagi TPA di Banyuurip akan penuh dan tak lagi mampu menampung sampah dari masyarakat. “Memang pemulung bisa memperpanjang usia TPA, tapi tetap perlu tindakan kongkret untuk mengelola gunungan sampah itu,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang Sudijono.

Untuk mengurangi beban volume sampah yang terus bertambah, pihaknya menggandeng pihak ketiga untuk memanfaatkan timbunan sampah itu menjadi kompos atau batako. Selain itu, juga telah dirintis kerjasama dengan Universitas Tidar Magelang, dalam pembuatan kompos. “Ini (kerja sama), sifatnya sangat mendesak, karena dari enam penampungan sampah kini tinggal satu, yang berukuran 60 x 30 meter dan kedalaman 7 meter. Diperkirakan dua tahun lagi sudah penuh,” imbuhnya.

Tampaknya, sesuai namanya, lokasi Banyuurip ini bisa menjadi “air kehidupan” bagi para ibu rumah tangga di sekitarnya. Sebuah simbiose mutualisme.***

©Copyright 2006, Indo Pos Online colo’CBN.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: