Posted by: hernowo | August 14, 2007

Jangan Sampai Jakarta Ambruk

Jangan Sampai Jakarta Ambruk

Oleh OTTO SOEMARWOTO
Sumber : Pikiran Rakyat

SESUAI dengan bidang kajian penulis, tulisan ini adalah sebuah tinjauan ekosistemik, bukan politik, ketatanegaraan, ekonomi ataupun perencanaan kota/wilayah. Megapolitan adalah sebuah fenomenon pertumbuhan beberapa kota yang tumbuh menjadi satu menjadi sebuah kota yang sangat besar.
Ada dua jenis pertumbuhan. Yang pertama ialah pertumbuhan linier. Misalnya, pembangunan perumahan yang setiap tahunnya dapat membangun 10 unit rumah. Jadi tahun pertama selesai 10 unit, tahun kedua 10 unit lagi, tahun ketiga 10 unit lagi, sehingga pada tahun pertama kita dapatkan 10 unit, tahun kedua 20 unit, tahun ketiga 30 unit, dst.-nya. Jika digambar dalam sebuah grafik akan terjadi sebuah garis lurus. Karena itu disebut pertumbuhan linier.
Jenis pertumbuhan kedua ialah yang disebut eksponensial. Contohnya ialah uang yang kita depositokan dalam bank dan bunga dimasukkan ke dalam deposito lagi. Misalnya deposito Rp 1.000.000,00 dengan bunga 10% per tahun. Setelah setahun deposito kita bertambah dengan Rp 100.000,00 menjadi Rp 1.100.000,00. Setelah dua tahun deposito kita bertambah dengan Rp 110.000 menjadi Rp 1.210.000 dan setelah tiga tahun bertambah dengan Rp 121.000 menjadi Rp 1.331.000.
Tampaklah pertambahan uang dari tahun ke tahun makin besar, yaitu tahun pertama Rp 100.000,00 tahun kedua Rp 110.000,00 dan ketiga Rp 121.000,00. Ini terjadi karena bunga masuk ke dalam deposito dan bunga itu berbunga lagi. Jika digambar dalam sebuah grafik akan nampak sebuah garis yang mula-mula naik dengan pelan-pelan dan makin lama makin menanjak. Tanjakan itupun makin lama makin tajam, karena terjadi pertumbuhan bunga di atas bunga. Pertumbuhan eksponensial itu terjadi karena umpan balik positif yang ditimbulkan oleh bunga yang berbunga.
Untuk pertumbuhan dibutuhkan sumber daya yang diambil dari lingkungan hidup. Untuk pertumbuhan linier kebutuhan sumber daya per satuan waktu adalah konstan. Misalnya, 10 ton semen per tahun. Untuk pertumbuhan eksponensial dibutuhkan sumber daya yang makin lama makin besar. Karena modal terus bertumbuh dengan adanya rekening bank yang makin besar, kemampuan membangun juga tumbuh. Misalnya, dalam tahun pertama hanya 10 rumah, dalam tahun kedua 20 rumah, tahun ketiga 30 rumah dst. Jadi dalam tahun pertama kita dapatkan 10 rumah, tahun kedua 30 rumah dan tahun ketiga 60 rumah. Sumber daya yang dibutuhkan per satuan waktu makin lama makin banyak. Kebutuhan itupun meningkat eksponensial.
Dalam proses pertumbuhan dihasilkan limbah. Limbah itu dibuang ke lingkungan hidup. Seperti halnya kebutuhan bahan, dalam pertumbuhan linier limbah yang dibuang ke lingkungan hidup per satuan waktu adalah konstan dan pada pertumbuhan eksponensial makin lama makin besar. Teknologi dapat mengurangi jumlah limbah dan teknologi memang merupakan salah satu cara untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan hidup. Pada lain pihak teknologi juga merupakan faktor yang memacu pertumbuhan, sehingga limbah total juga tumbuh makin banyak.
Jakarta mengalami pertumbuhan eksponensial. Bisnis menarik modal yang membawa keuntungan. Modal yang bertambah itu diinvestasikan lagi, sehingga modal makin banyak. Investor dari luar dan dalam negeri tertarik ke Jakarta. Laju pertumbuhan penduduk pun meningkat, karena adanya pertumbuhan natural dan migrasi dari seluruh nusantara. Infrastruktur dibangun berupa perumahan, perkantoran dan jalan. Karena kota makin penuh dan harga lahan dalam kota makin membubung, kota berkembang di periferinya. Tumbuhlah satelit-satelit kota di sekitar Jakarta. Untuk melayani perkembangan ini dibangun infrastruktur jalan raya, termasuk tol. Tumbuhlah metropolitan Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi. Pertumbuhan eksponensial berlanjut. Kini Jakarta menuju menjadi sebuah megapolitan.
Penduduk Jakarta berjumlah 8 juta orang. Tetapi pada hari kerja siang hari penduduknya melonjak menjadi 12 juta. Empat juta orang setiap hari keluar-masuk Jakarta dari kota-kota satelitnya dengan mobil yang jumlahnya 750 ribu buah. Setiap harinya mereka menghabiskan 3-5 jam dalam perjalanan. Berarti energi sumber daya manusia termakan dalam jumlah yang sangat besar. Mobil yang berjumlah 750 ribu pun memakan sumber daya energi BBM dalam jumlah yang sangat besar. Konsumsi energi pun terus makin besar.
Penduduk Jakarta dan penduduk transit yang hanya bermukim di Jakarta pada siang hari juga membuang limbah ke lingkungan hidup berupa sisa makanan dan pembungkusnya serta limbah MCK. Jakarta mengalami kesulitan membuang limbahnya.
Sampah padat harus di buang ke TPA di luar Jakarta. Muncullah protes penduduk sekitar TPA. Sungai-sungai Jakarta tersumbat sampah dan eceng gondok yang tumbuh subur karena penyuburan air sungai oleh limbah MCK. Banjir meningkat. Limbah MCK juga merupkan sumber penyakit muntahberak. Pembakaran BBM menghasilkan gas buang yang amat besar pula. Kabut kelabu yang menyelimuti Jakarta adalah gejala pencemaran udara yang kasat mata dan mempunyai dampak penurunan kualitas sumber daya manusia kita.
Sumber daya yang dibutuhkan Jakarta tidak hanya energi manusia dan BBM. Lahan subur yang beririgasi teknis di Pantura banyak yang telah berubah menjadi jalan tol, jalan raya, perumahan dan pabrik. Infrastruktur irigasi yang telah dibangun dengan biaya ratusan juta dolar telah mubazir. Petani pun tergusur dan bermigrasi ke Jakarta. Industri memang menciptakan lapangan pekerjaan. Tetapi ironisnya banyak di antara pekerja di industri itu bukanlah penduduk setempat, melainkan banyak pendatang, termasuk dari Jakarta.
Sumber daya pasir untuk pembangunan diambil oleh Jakarta sampai ke Cirebon dan Garut. Batu bata dari Cikarang. Terjadilah kerusakan lingkungan yang parah karena galian C.
Secara alamiah pertumbuhan eksponensial tidak dapat berkelanjutan. Contohnya ialah pertumbuhan belalang di Afrika yang setiap 8-10 tahun meledak. Pertumbuhan eksponensial yang eksplosif itu menghabiskan sumber daya dengan cepat. Terjadilah kematian masal belalang, sehingga populasinya turun ke tingkat normal kembali.
Demikian pula pertumbuhan eksponensial populasi manusia yang menghabiskan sumber dayanya akan ambruk. Contoh yang terkenal ialah Mesopotamia di Asia Tengah dan Maya di Amerika Tengah. Dalam hal Mesopotamia keambrukan disebabkan karena ekspansi irigasi dari S. Eufrat. Dalam kondisi ringkai (arid) yang menyebabkan penguapan air dengan laju yang besar ekspansi irigasi menyebabkan salinisasi yang luas, yaitu kenaikan kadar garam dalam tanah. Ambruklah kesuburan tanah dan ambruklah pula pertanian. Dengan ini ambruklah negara Mesopotamia.
Dalam hal Maya pertumbuhan penduduk yang eksponensial telah menyebabkan deforestasi yang luas. Laju erosi pun meningkat dan hilanglah kesuburan tanah. Iklim pun berubah menjadi makin kering. Ambruklah kerajaan Maya. Untuk menghindari keambrukan peradaban dunia modern kita berusaha mencegah pertumbuhan eksponesial manusia dengan keluarga berencana. KB itu merupakan umpan balik negatif. Laju rata-rata pertumbuhan penduduk dunia mulai menurun.
Jika pertumbuhan Jakarta menjadi sebuah metropolitan dan selanjutnya megapolitan dibiarkan, Jakarta akan mengalami pertumbuhan yang makin lama makin naik tajam dalam kurva eksponensial. Jika tidak dikoreksi, Jakarta akan ambruk. Tidak saja karena deplesi sumber daya, melainkan juga karena limbah yang diproduksinya. Haruslah secara sadar dan berencana dibangun sebuah sistem umpan balik negatif untuk mengendalikan pertumbuhan Jakarta, bukannya membiarkannya tumbuh menjadi megapolitan. Sistem umpan balik negatif itu berupa pembatasan fungsi Jakarta yang sekarang mencakup segala-galanya. Jakarta adalah ibu kota negara yang menjadi pusat pemerintahan, politik, pendidikan, bisnis dan lain-lain.
Seyogianya kita mencontoh Amerika Serikat. Washington, DC., adalah ibu kota negara yang menjadi pusat pemerintahan dan politik. Tetapi bukan pusat bisnis. Pusat bisnis adalah New York. Negara bagian New York ibu kota dan pusat pemerintahannya adalah Albany, bukan New York. Demikian pula ibu kota dan pusat pemerintahan California adalah Sakramento, bukan Los Angeles atau San Fransisco dan Louisiana ibu kota dan pusat pemerintahannya adalah Baton Rouge, bukan New Orleans. Kita tahu New York, Los Angeles, San Fransisco dan New Orleans. Tetapi berapa di antara kita yang kenal Albany, Sakramento dan Baton Rouge? Ada pemisahan yang jelas antara ibu kota sebagai pusat pemerintahan dan politik dengan pusat bisnis. Jakarta pun harus demikian. Jadikan Jakarta pusat pemerintahan, politik, pendidikan dan budaya, tapi pindahkan pusat bisnis ke luar Jakarta, antara lain, ke Banda Aceh-Sabang dan Medan di barat, Balikpapan di tengah, Manado di utara serta Makassar dan Jayapura di timur.
Transpor laut pun akan terpacu, sehingga lahan subur dengan irigasi teknis yang amat bagus di Jawa terselamatkan dari pembangunan perumahan, jalan, jalan tol dan industri. Karena proliferasi kota dapat dicegah dan transpor kapal lebih hemat energi daripada transpor darat, energi dapat dihemat dan dengan ini pencemaran udara juga menurun. Pembangunan menyebar lebih merata dan lebih adil. Jakarta bukanlah Indonesia dan Indonesia bukanlah Jakarta. Sentimen separatisme menurun. NKRI makin kokoh. Dengan ini pertumbuhan eksponensial Jakarta dapat direm dan keambrukannya dapat dihindari.***

Penulis, guru besar emeritus Universitas Padjadjaran Bandung.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: