Posted by: hernowo | August 14, 2007

Alwi Sihab :Jakarta 474 Tahun (2001)

Jakarta 474 Tahun(2001)

Oleh Alwi Shahab

Jakarta, yang kini berusia 474 tahun, memiliki sejarah paling panjang di Asia Tenggara. Bangkok didirikan 1769, Sydney (1788), Singapura (1819), dan Kuala Lumpur (awal abad ke-19).
Jakarta memang tak memiliki istana-istana kerajaan dan phra-phra penuh patung berlapis emas seperti Bangkok. Bukan pula kawasan hijau royo-royo seperti Singapura yang dijuluki The Garden City. Sekalipun masa lalunya tidak kalah menariknya dari bekas koloni Inggris ini. Atau seperti Kuala Lumpur yang penataan kotanya begitu indah dengan berbagai taman. Apalagi dibandingkan dengan Sydney, kota yang selalu gemerlapan.
Tapi, ada kelebihan Jakarta yang tidak dimiliki kota-kota tersebut. Di sini banyak bangunan kuno yang masih tersisa, dan perlu diselamatkan keberadaannya. Karenanya, tepatlah ketika gubernur Ali Sadikin melestarikannya sebagai cagar budaya. Kalau saja tidak ada peraturan ini, barangkali bangunan-bangunan tua ini sudah punah. Padahal, ia merupakan daya tarik bagi wisatawan asing untuk datang ke Ibukota. Yang sejak beberapa tahun lalu dipromosikan Pemda DKI. Sayangnya, belum berhasil. Konon akibat citra buruk Jakarta yang di luar negeri dilukiskan sebagai kota yang menakutkan.
Barangkali tidak ada kota sedinamis Jakarta di jagad ini. Kota yang semula berpenghuni ribuan orang –menurut bahasa Sansekerta, ‘kota’ bermakna berarti ‘kita yang dibentengi’– menjadi kota megapolitan yang berpenduduk belasan juta jiwa. Contoh konkritnya adalah kota Amsterdam. Awalnya, Batavia dibangun (1619) dengan meniru konsep kota di negeri Belanda yang usianya 255 tahun lebih tua. Penduduk Jakarta pada 1945 berjumlah 500 ribu jiwa. Sedangkan Amsterdam 800 ribu jiwa. Pada 1972, penduduk Jakarta membengkak jadi 4,5 juta jiwa. Sedang Amsterdam tetap 800 jiwa. Paling-paling hanya naik sedikit.
Bahkan, dalam masa krisis sekarang, saat ekonomi amburadul dan rakyat kecil hidup makin menderita, Jakarta menjadi tumpuan para pendatang untuk mengadu untung. Hingga tidak heran ia diberi gelar sebagai salah satu kota pedagang kaki lima terbesar di jagad.
Kembali ke catatan sejarah. Jakarta berdiri 22 Juni 1527 setelah Fatahillah mengusir armada Portugis, ia wafat pada 1570 dan dimakamkan di Cirebon. Kala itu, Pemerintahan Jayakarta diserahkan pada Tubagus Angke, dan selanjutnya pangeran Ahmad Jaketra. Penduduk waktu itu sekitar tiga ribu kepala keluarga atau 15 ribu jiwa. Tatakota –sistem penempatan bangunan-bangunan — di Jayakarta tidak berbeda dengan tatakota lainnya di pesisir utara pulau Jawa. Pusat kota ditandai dengan alun-alun (kini sekitar terminal Kota), di sebelah Selatan terdapat kraton (sekitar Hotel Omni Batavia), di sebelah barat ada masjid dan di Utara di pasar. Itu semua mencerminkan pusat kekuasaan: politik (kraton), Islam (masjid), perekonomian (pasar), dan alun-alun sebagai pusat pertemuan antar masyarakat dengan raja serta anggota kerabatnya. Kota ini dikelilingi kali Ciliwung dengan anak sungainya, yang sekaligus berfungsi sebagai pertahanan kota. Pertahanan kota ini mula-mula dikelilingi pagar bambu, kemudian diberi bertembok.
Waktu itu, sudah ada perkampungan Cina di Jayakarta. Dalam berbagai tulisan orang Belanda disebutkan, ketika serombongan kapal VOC mampir di sini (13/11-1596), mereka menjumpai perkampungan Cina. Letaknya di sebelah timur Ciliwung, kini mungkin di sekitar Kalibesar Timur.
Menurut laporan itu, penduduk Cina ini mengusahakan persawahan dan penyulingan arak. Para pelaut yang mendarat di Jayakarta (sebelumnya Sunda Kelapa) memuji kelezatan araknya.
Belanda yang datang kemudian juga memanfaatkan hubungan orang Cina dengan anak negeri guna kepentingan eksploitasi kolonial yang dijalankan berabad-abad. Terbukti kedatangan orang Cina terus meningkat, terutama setelah VOC mendirikan Batavia di atas reruntuhan Jayakarta. Sampai 1630-an, pendapatan dari pajak orang Cina saja sudah memberikan separuh dari seluruh pendapatan kota Batavia. Termasuk dari pajak keramaian yang di adakan di lapangan balai kota (kini Taman Fatahillah) oleh orang-orang Cina.
Pada permulaan abad ke-18, banyak petinggi VOC membeli tanah di Selatan. Mereka membangun landhuis berupa vila-vila dan membuka kebun-kebun tempat peristirahatan. Sebagian tanah-tanah partikulir ini disewakan pada orang-orang Cina sebagai perkebunan tebu, tembakau, sayur mayur atau lahan tempat pengembalaan ternak. Ada pula penyewa yang berkebun kacang, jahe, sirih dan seterusnya. Bekasnya kini melekat pada toponim seperti Kebon Kacang, Kebon Jahe, dan Kebon Sirih.
Sampai paruh pertama abad ke-20, tempat pemukiman penduduk masih dipisahkahn berdasarkan kelompok etnis. Orang Betawi tersebar di mana-mana. Meskipun mereka telah terdesak dari Menteng, tetapi masih banyak tinggal di tengah kota. Belanda dan Eropa tinggal di daerah elit seperti Riujswijk (Jl Veteran) dan Noordwijk (Jl Juanda). Kemudian ke Menteng. Rumah mereka menyerupai vila-vila dengan halaman luas dan pepohonan rindang. Sebagian kelompok Indo Belanda tinggal di Kemayoran. Maka, muncul istilah Belanda Kemayoran. Kelompok Cina tinggal di pusat-pusat perniagaan Glodok, Senen, dan Meester Cornelis (Jatinegara). Sedangkan orang Arab di Pekojan dan Krukut, yang juga disebut Kampung Arab.

Sumber: Republika, Minggu, 17 Juni 2001


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: