Posted by: hernowo | August 13, 2007

Meretas Problem Sampah Jakarta

Dari Sinar Harapan :

Meretas Problem Sampah Jakarta

Oleh
BRA Mooryati Soedibyo

>Kontroversi antara Pemerintah DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Bekasi mengenai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Bantar Gebang mengindikasikan penanganan sampah Jakarta bersifat kompleks, tidak hanya menyangkut TPA, namun juga memerlukan partisipasi publik, manajemen dan teknologi.
Hamparan tanah seluas 108 hektar di TPA itu kini menjadi gunungan sampah dengan tinggi rata-rata 25 meter. Gunungan sampah itu sudah belasan tahun dan tidak diolah dan mencemarkan lingkungan. Ini bisa menjadi bom waktu dan sumber penyakit yang melanda warga sekitar TPA. Pencemaran udara (bau dan asap) yang mencapai radius 5 – 10 kilometer itu akan menimbulkan penyakit dalam rentang waktu 15 tahun yang akan datang. Ini tentu membutuhkan biaya sosial dan biaya lingkungan yang tidak murah.
Pencemaran tersebut akibat tidak diterapkannya sistem sanitary landfil yang mestinya dilakukan dalam pengelolaan TPA Bantar Gebang. Semestinya, setiap ketinggian dua meter tumpukan sampah ditimbun dengan 40 sentimeter lapisan tanah. Di dasar timbunan itu dibuat saluran aliran air yang mengalir ke kolam penampungan.
Pemerintah DKI perlu segera mengantisipasi agar sampah tidak menimbulkan bencana banjir dan kerugian yang lebih besar terutama saat musim hujan. Kita khawatir banjir terulang kembali, seperti di tahun 2002, akibat terhambatnya sarana pengangkutan sampah selama berhari-hari.
Sampah Jakarta yang dihasilkan hingga mencapai lebih kurang 6.925 ton per hari harus bisa ditangani dengan cepat dan tepat. Dalam konteks ini, pemikiran penanganan sampah secara regional perlu dipertimbangkan oleh Pemerintah DKI Jakarta. Setiap wilayah, khususnya di titik-titik rawan banjir, harus ada yang bertanggung jawab terhadap persoalan sampahnya masing-masing. Langkah tersebut perlu dilakukan mengingat volume sampah kota yang perlu penanganan intensif dan massif.

Partisipasi Publik

Gambaran di atas mencerminkan bahwa sampah di Jakarta belum bisa ditangani secara baik oleh Pemda DKI Jakarta, bahkan seakan kesulitan menangani kebersihan kota. Volume sampah meningkat dari hari ke hari seiring dengan pertambahan penduduk. Diperkirakan pada tahun 2005 volume sampah meningkat menjadi 10.220 ton/hari. Jelas, bila hal ini dibiarkan begitu lama tanpa adanya pemecahan secara holistik, kota Jakarta akan menjadi kota yang kotor, rawan banjir, penuh dengan berbagai sumber penyakit yang bisa meresahkan masyarakat.
Pemerintah dan DPRD DKI Jakarta perlu mengkaji kembali persoalan sampah kota secara serius. Sebab jika tidak, pemerintah dan warga kota Jakarta dari masa ke masa pasti disibukkan oleh persoalan sampah yang kontraproduktif baik dari segi waktu, biaya, tenaga dan pengorbanan lainnya.
Secara tidak langsung, persoalan sampah berakibat pada pencemaran lingkungan baik air maupun udara di wilayah perkotaan, yang sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari cara pandang dalam menetapkan kebijakan pembangunan. Persoalan tersebut secara prinsipiil bersumber dari paradigma pembangunan yang lebih menekankan aspek ekonomi dan cenderung memarginalkan aspek sosial dan lingkungan.
Menurut data dari dinas kebersihan DKI Jakarta distribusi produksi sampah DKI Jakarta pada tahun 1990 dapat diuraikan sebagai berikut: dari volume sampah yang dihasilkan warga per hari mencapai rata-rata 23.600 m? (6.400 ton) itu, di antaranya bersumber dari perumahan 58 %; pasar 10%; komersial 15%; industri 15%; jalan, taman dan sungai 2%; sampah organik 65% dan sampah non-organik 35%. Dari jumlah volume di atas yang terkelola 87% dan tidak terkelola 13%.
Melalui pendekatan yang holistik dengan menempatkan aspek sosial dan lingkungan hidup secara seimbang dengan aspek ekonomi, maka kita bisa meminimasi problem sampah di perkotaan. Pencemaran tidak saja bersumber dari sampah organik, tetapi juga dari sampah non-organik yang sulit didaur ulang.
Perkiraan volume dan jenis sampah dari dinas kebersihan DKI Jakarta, menggambarkan besaran volume sampah non-organik akan mencapai 3.577 ton per hari pada tahun 2005. Perkiraan ini, dapat dijadikan pertimbangan guna mengajak publik untuk berpartisipasi dalam mengatasi problem sampah, baik dari segi pemilahan awal dari tempat tinggal dan lingkungan sekitarnya, pendanaan, dan bentuk penyuluhan guna meminimasi problem sampah.
Sebenarnya, persoalan sampah Jakarta bisa diselesaikan apabila adanya kemauan politis dari para pengambil keputusan untuk menetapkan kebijakan dan regulasi yang mendukung terwujudnya sistem pengolahan sampah secara terpadu dan ramah lingkungan. Di negara-negara maju, sejak tahun 1970-an sudah diberlakukan aturan bagi sektor industri untuk memproduksi kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Selain itu perusahaan-perusahaan juga harus ikut mempertanggungjawabkan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh produk mereka. Caranya, adalah dengan memperhitungkan biaya yang diperlukan untuk mengatasi dampak lingkungan itu ke dalam perhitungan harga produk yang disebut dengan biaya eksternalitas.
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah tumbuhnya jenis usaha yang menjadikan sampah sebagai komoditasnya oleh para pemulung dan lapaknya. Sebagian sampah yang terbuang ke bak penampungan sampah rumah tangga ternyata mempunyai nilai ekonomis yang menguntungkan. Kertas, plastik sisa makanan, botol bekas, lempengan logam dan barang lain yang masih berharga oleh para pemulung dipungut dan dikumpulkan untuk dijual. Barang-barang tersebut dipilah dan dipilih serta dikelompokkan, mana sampah yang bisa didaur ulang dan mana yang tidak. Sampah yang bisa didaur ulang tentu masih mempunyai nilai jual baik untuk bahan baku atau keperluan lainnya.
Pemerintah DKI Jakarta sebaiknya terus melakukan pembinaan agar jenis usaha di atas bisa berkembang, karena cukup efektif dapat membantu Pemda dalam penanganan sampah.
Sebab dengan menganggap sampah sebagai barang yang bernilai maka pencegahan dan pemilahan (source reduction), daur ulang (recycling), serta pengomposan (composting) sampah akan memperkecil jumlah volume sampah, baik sampah yang akan dibakar (incenerating) maupun sampah yang akan di buang ke tempat pembuangan akhir (landfilling).

Peran Perempuan

Dalam menangani masalah sampah, partisipasi ibu rumah tangga sangat penting untuk ditingkatkan agar pengelolaan sampah secara makro bisa efisien dan murah. Ini terkait dengan volume sampah dari rumah tangga yang mencapai 58 %. Para ibu rumah tangga pada umumnya lebih banyak bersentuhan langsung dengan keberadaan sampah rumah tangga. Seyogyanya para ibu mesti menjadi contoh dan memberikan pendidikan kepada anak dan anggota keluarga lainnya agar peduli terhadap masalah kebersihan lingkungan.
Setiap rumah kiranya perlu menyediakan dua bak sampah untuk memisahkan dan membuang sampah organik dan non-organik (seperti: kertas, plastik, kain, kaleng dan kaca). Usaha ini juga membantu memudahkan kerja petugas kebersihan dan pemulung sampah.
Peran perempuan dalam mengelola sampah di lingkungan rumah tangganya mesti digalakkan, dengan melalui kegiatan PKK ataupun lainnya yang mampu mendorong munculnya kesadaran akan upaya kebersihan serta pemeliharaan lingkungan yang sehat hingga menjadi sebuah tradisi di tengah masyarakat kita. Dengan demikian kita berharap masalah sampah khususnya di Jakarta dapat tertanggulangi dengan baik.

Penulis adalah pengusaha dan pemerhati masalah sosial.

Copyright © Sinar Harapan 2003


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: